Twitter Facebook Feed

ASUHAN KEPERAWATAN PANKREATITIS APLIKASI NANDA, NC, NOC

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
         Pankreas merupakan suatu organ yang mempunyai fungsi endokrin dan eksokrin, dan kedua fungsi ini saling berhubungan. Fungsi eksokrin yang utama adalah untuk memfasilitasi proses pencernaan melalui sekresi enzim-enzim ke dalam duodenum proksimal. Sekretin dan kolesistokinin-pankreozimin (CCC-PZ) merupakan hormon traktus gastrointestinal yang membantu dalam mencerna zat-zat makanan dengan mengendalikan sekret pankreas. Sekresi enzim pankreas yang normal berkisar dari 1500-2500 mm/hari.

B.  Tujuan
      1.   Tujuan Umum
·         Membantu mahasiswa dalam memahami secara umum konsep dari pankreatitis
2.   Tujuan Khusus
·         Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan pankreatitis
·         Mampu menemukan masalah keperawatan pada klien dengan pankreatitis
·         Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan pankreatitis
·         Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan pankreatitis
·         Mampu mengevaluasi tindakan yang sudah dilakukan pada klien dengan pankreatitis
·         Mampu mengidentifikasi factor-faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari solusinya
·         Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi



BAB II
TINJAUAN TEORITIS

1.      KONSEP DASAR
A.  Pengertian
         Pankreatitis (inflamasi pankreas) merupakan penyakit yang serius pada pankreas dengan pankreatitis intensitas yang dapat berkisar mulai dari kelainan yang relatif ringan dan sembuh sendiri hingga penyakit yang berjalan dengan cepat dan fatal yang tidak bereaksi terhadap berbagai pengobatan. (Brunner & Suddart, 2001; 1338)
         Pankreatitis adalah kondisi inflamasi yang menimbulkan nyeri dimana enzim pankreas diaktifasi secara prematur mengakibatkan autodigestif dari pankreas. (Doengoes, 2000;558)
         Pankreatitis akut adalah inflamasi pankreas yang biasanya terjadi akibat alkoholisme dan penyakit saluran empedu seperti kolelitiasis dan kolesistisis. (Sandra M. Nettina, 2001)

B.  Etiologi
1.   Batu saluran empedu
2.   Infeksi virus atau bakteri
3.   Alkoholisme berat
4.   Obat seperti steroid, diuretik tiazoid
5.   Hiperlipidemia, terutama fredericson tipe V
6.   Hiperparatiroidisme
7.   Asidosis metabolic
8.   Uremia
9.   Imunologi seperti lupus eritematosus
10.  Pankreatitis gestasional karena ketidakseimbangan hormonal
11.  Defisiensi proteinToksin
12.  Lain-lain seperti gangguan sirkulasi, stimulsi vagal ( Arief Mansjoer, 2000).


C.  Klasifikasi
1.   Pankreatitis akut atau inflamasi pada pankreas terjadi akibat tercernanya organ ini oleh enzim- enzimnya sendiri, khususnya oleh tripsin. (Brunner & Suddart, 2001:1339)
2.   Pankreatitis kronik merupakan kelainan inflamasi yang ditandai oleh kehancuran anatomis dan fungsional yang progresif pada pankreas. (Brunner & Suddart, 2001:1348)

D.  Manifestasi Klinis
         Nyeri abdomen yang hebat merupakan gejala utama pankreatitis yang menyebabkan pasien datang ke rumah sakit. Rasa sakit dan nyeri tekan abdomen yang disertai nyeri pada punggung, terjadi akibat iritasi dan edema pada pankreas yang mengalami inflamasi tersebut sehingga timbul rangsangan padaujung-ujung saraf. Peningkatan tekanan pada kapsul pankreas dan obstruksi duktus pankreatikus juga turut menimbulkan rasa sakit.
         Secara khas rasa sakit yang terjadi pada bagian tengah ulu hati (midepigastrium). Awitannya seringbersifat akut dan terjdi 24-48 jam setelah makan atau setelah mengkonsumsi minuman keras; rasa sakit ini dapat bersifat menyebar dan sulit ditentukan lokasinya. Umumnya rasa sakit menjadi semakin parah setelah makan dan tidak dapat diredakan dengan pemberian antasid. Rasa sakit ini dapat disertai dengan distensi abdomen, adanya massa pada abdomen yang dapat diraba tetapi batasnya tidak jelas dan dengan penurunan peristatis. Rasa sakit yang disebabkan oleh pankreatitis sering disertai dengn muntah.
         Pasien tampak berada dalam keadaan sakit berat defens muskuler teraba pada abdomen. Perut yangkaku atau mirip papan dapat terjadi dan merupakan tanda yang fatal. Namun demikian abdomen dapat tetap lunak jika tidak terjadi peritonitis. Ekimosis (memar) didaerah pinggang dan disekitar umbilikus merupakan tanda yang menunjukkan adanya pankreatitis haemoragik yang berat.
         Mual dan muntah umumnya dijumpai pada pankreatitis akut. Muntahan biasanya berasal dari isi lambung tetapi juga dapat mengandung getah empedu. Gejala panas, ikterus, konfusidan agitasi dapat terjadi.
Hipotensi yang terjadi bersifat khas dan mencerminkan keadaan hipovolemia serta syok yang disebabkan oleh kehilangan sejumlah besar cairan yang kaya protein, karena cairan ini mengalir  kedalam jaringan dan rongga peritoneum. Pasien dapat mengalami takikardia, sianosis dan kulit yang dingin serta basah disamping gejala hipotensi. Gagal ginjal akut sering dijumpai pada keadaan ini.
Gangguan pernafasan serta hipoksia lazim terjadi, dan pasien dapat memperlihatkan gejala infiltrasi paru yang difus, dispnoe, tachipnoe dan hasil pemeriksaan gas darah abnormal. Depresi miokard, hipokalsemia, hiperglikemia dan koagulopati intravaskuler diseminata dapat pula terjadi pada pankreatitis akut (Brunner & Suddart, 2001:1339)

E.  Patofisiologi
         Patofisiologi dari pankreatitis akut berhubungan juga dengan kasus batu empedu. Batu empedu yang memasuki duktus koledokus dan terperangkap dalam saluran ini pada daerah ampula vater, lalu menyumbat aliran getah pankreas sehingga menyebabkan aliran  balik getah empedu dari duktus kholedokus ke dalam duktus pankreatikus, akibatnya akan mengaktifkan yang kuat dalam pankreas dimana dalam keadaan normal enzim-enzim ini berada dalam bentuk inaktif sampai getah pankreas mencapai lumen duodenum. Spasme dan edema pada ampula vater yang terjadi akibat duodenitis kemungkinan dapat menimbulkan pankreatitis.
         Mortalitas akibat pankreatitis akut cukup tinggi (10%) akibat terjadinya syok, anoreksia, hipotensi dan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit. Pankreatitis akut memiliki keparahan  yang berkisar dari kelainan yang relative ringan dan sembuh dengan sendirinya hingga penyakit yang dengan cepat menjadi fatal serta tidak responsive terhadap berbagai terapi.

F.   Pemeriksaan Diagnostik
1.   Scan-CT : menentukan luasnya edema dan nekrosis
2.   Ultrasound abdomen: dapat digunakan untuk mengidentifikasi inflamasi pankreas, abses, pseudositis, karsinoma dan obstruksi traktus bilier.
3.   Endoskopi : penggambaran duktus pankreas berguna untuk diagnosa fistula, penyakit obstruksi bilier dan striktur/anomali duktus pankreas. Catatan : prosedur ini dikontra indikasikan pada fase akut.
4.   Aspirasi jarum penunjuk CT : dilakukan untuk menentukan adanya infeksi.
5.   Foto abdomen : dapat menunjukkan dilatasi lubang usus besar berbatasan dengan pankreas atau faktor pencetus intra abdomen yang lain, adanya udara bebas intra peritoneal disebabkan oleh perforasi atau pembekuan abses, kalsifikasi pankreas.
6.   Pemeriksaan seri GI atas : sering menunjukkan bukti pembesaran pankreas/inflamasi.
7.   Amilase serum : meningkat karena obstruksi aliran normal enzim pankreas (kadar normal tidak menyingkirkan penyakit).
8.   Amilase urine : meningkat dalam 2-3 hari setelah serangan.
9.   Lipase serum : biasanya meningkat bersama amilase, tetapi tetap tinggi lebih lama.
10.  Bilirubin serum : terjadi pengikatan umum (mungkin disebabkan oleh penyakit hati alkoholik atau penekanan duktus koledokus).
11.  Fosfatase Alkaline : biasanya meningkat bila pankreatitis disertai oleh penyakit bilier.
12.  Albumin dan protein serum dapat meningkat (meningkatkan permeabilitas kapiler dan transudasi cairan kearea ekstrasel).
13.  Kalsium serum : hipokalsemi dapat terlihat dalam 2-3 hari setelah timbul penyakit (biasanya menunjukkan nekrosis lemak dan dapat disertai nekrosis pankreas).
14.  Kalium : hipokalemia dapat terjadi karena kehilangan dari gaster; hiperkalemia dapat terjadi sekunder terhadap nekrosis jaringan, asidosis, insufisiensi ginjal.
15.  Trigliserida : kadar dapat melebihi 1700 mg/dl dan mungkin agen penyebab pankreatitis akut.
16.  LDH/AST (SGOT) : mungkin meningkat lebih dari 15x normal karena gangguan bilier dalam hati.
17.  Darah lengkap : SDM 10.000-25.000 terjadi pada 80% pasien. Hb mungkin menurun karena perdarahan. Ht biasanya meningkat (hemokonsentrasi) sehubungan dengan muntah atau dari efusi cairan kedalam pankreas atau area retroperitoneal.
18.  Glukosa serum : meningkat sementara umum terjadi khususnya selama serangan awal atau akut. Hiperglikemi lanjut menunjukkan adanya kerusakan sel beta dan nekrosis pankreas dan tanda aprognosis buruk. Urine analisa; amilase, mioglobin, hematuria dan proteinuria mungkin ada(kerusakan glomerolus).
19.  Feses : peningkatan kandungan lemak (seatoreal) menunjukkan gagal pencernaan lemak dan protein (Dongoes, 2000).

G.  Penatalaksaaan
         Tidak ada terapi yang diketahui dapat menghentikan siklus aktivasi enzim pankreas dengan inflamasidan nekrosis kelenjar. Tetapi definitif ditujukan pada penyebab gangguan. Prioritas keperawatan dan medis untuk penatalaksanaan pendukung dari pankreatitis akut termasuk sebagai berikut:
·         Penggantian cairan dan elektrolit
         Penggantian cairan menjadi prioritas utama dalam penanganan pankreatitis akut. Larutan yangdiperintahkan dokter untuk resusitasi cairan adalah koloid atau ringer laktat. Namun dapat pula diberikan plasma segar beku atau albumin. Tanpa memperhatikan larutan mana yang dipergunakan. Penggantian cairan digunakan untuk memberikan perfusi pankreas, yang hal ini diduga mengurangi perkembangan keparahan rasa sakit. Ginjal juga tetap dapat melakukan perfusi dan ini dapat mencegah terjadinya gagal ginjal akut. Pasien dengan pankreatitis hemorragia kut selain mendapat terapi cairan mungkin juga membutuhkan sel-sel darah merah untuk memulihkan volume. Pasien dengan penyakit parah yang mengalami hipertensi, gagal memberikan respon terhadap terapi cairan mungkin membutuhkan obat-obatan untuk mendukung tekanan darah. Obat pilihannya adalah dopamin yang dapat dimulai pada dosis yang rendah (2-5 ug/kg/menit). Keuntungan obat ini adalah bahwa dosis rendah dapat menjaga perfusi ginjal sementara mendukung tekanan darah. Pasien hipokalsemia berat ditempetkan pada situasi kewaspdaan kejang dengan ketersediaan peralatan bantu nafas. Perawat bertanggung jawab untuk memantau kadar kalsium, terhadap pemberian larutan pengganti dan pengevaluasian respon pasien terhadap kalsium yang diberikan. Penggantian kalsium harus didifusikan melalui aliran sentral, karena infiltrasi perifer dapat menyebabkan nekrosis jaringan. Pasien juga harus dipantau terhadap toksisitas kalsium. Hipomagnesemia juga dapat timbul bersama hipokalsemia dan magnesium yang juga perlu mendapat penggantian. Koreksi terhadap magnesium biasanya dibutuhkan sebelum kadar kalsium menjadi normal. Kalium adalah elektrolit lain yang perlu diganti sejak awal sebelum regimen pengobatan karena muntah yang berhubungan dengan pangkreatitis akut. Kalium dalam jumlah yang berlebihan juga terdapat dalam getah pankreas. Kalsium harus diberikan dalam waktu lambat lebih dari satu jam lebih dengan menggunakan pompa infus. Pada beberapa kasus, hiperglikemia dapat juga berhubungan dengan dehidrasi atau ketidakseimbangan elektrolit lainnya. Mungkin diperintahkan pemberian insulin lainnya dengan skala geser, insulin ini perlu diberikan dengan hati-hati, karena kadar glukagon sementara pada pankreatitis akut (Hudak dan Gallo, 1996).
·         Pengistirahatan pankreas
         Suction nasogastric digunakan pada kebanyakan pasien dengan pankreatitis akut untuk menekan sekresi eksokrin pankreas dengan pencegahan pelepasan sekretin dari duodenum. Mual, muntah dan nyeri abdomen dapat juga berkurang bila selang nasogastric ke suction lebih dini dalam perawatan.Selang nasogastrik juga diperlukan pasien dengan illeus, distensi lambung berat atau penurunan tingkat kesadaran untuk mencegah komplikasi akibat aspirasi pulmoner. Puasa ketat (tak ada masukan peroral) harus dipertahankan sampai nyeri abdomen reda dan kadar albumin serum kembali normal. Namun parenteral total dianjurkan untuk pasien pankreatitis mendadak dan parah yang tetap dalam status puasa jangka panjang dengan suction nasogastrik dengan illeus paralitik, nyeri abdomen terus-menerus atau komplikasi pankreas. Lipid tidak boleh diberikan karena dapat meningkatkan kadar trigliserida lebih jauh dan memperburuk proses peradangan. Pada pasien dengan pankreatitis ringan cairan peroralbiasanya dapat dimulai kembali dalam 3-7 hari dengan penggantian menjadi padat sesuai toleransi. Status puasa yang diperpanjang dapat menyulitkan pasien. Perawatan mulut yang sering dan posisiyang sesuai serta memberikan pelumasan pada selang nasogastric menjadi penting dengan mempertahankan integritas kulit dan memaksimalkan kenyamanan pasien. Dianjurkan tirah baring untuk mengurangi laju metabolisme basal pasien. Hal ini selanjutnya akan mengurangi rangsangan dari sekresi pankreas (Hudak dan Gallo, 1996).
·         Penatalaksanaan nyeri
         Analgesik diberikan untuk kenyamanan pasien maupun untuk mengurangi rangsangan saraf yang diinduksi stress atau sekresi lambung dan pankreas. Meferidan (dimerol) digunakan menggantikan morfin karena morfin dapat menginduksi spasme sfingter oddi (Sabiston, 1994).
·         Pencegahan komplikasi
·         Karena sebab utama kematian adalah sepsis maka antibiotika diberikan. Antasid biasanya diberikan untuk mengurangi pengeluaran asam lambung dan duodenum dan resiko perdarahan sekunder terhadap gastritis atau duodenitis (Sabiston, 1994).
·         Diet  tinggi kalori tinggi protein rendah lemak (Barabara C. long, 1996).
·         Pemberian enzim pankreas : pankreatin (viakose), pankrelipase (cotozym), pankrease (Barbara C. long, 1996).
·         Fiberoscopy dengan kanulisasi dan spingterotomi oddi (Barbara C. long,1996).
·         Intervensi bedah
Terapi bedah mungkin diperlukan dalam kasus pankreatitis akut yang menyertai penyakit batu empedu.Jika kolesistisis atau obstruksi duktus komunistidak memberikan respon terhadap terapi konservatif selama 48 jam pertama, maka kolesistosyomi, koleastektimi atau dekompresi duktus komunis.mungkindiperlukan untuk memperbaiki perjalanan klinik yang memburuk secara progresif. Sering adanya kolesistisis gangrenosa atau kolengitis sulit disingkirkan dalam waktu singkat dan intervensi yang dinimungkin diperlukan, tetapi pada umumnya terapi konservatif dianjurkan sampai pankreatitis menyembuh, dimana prosedur pada saluran empedu bisa dilakukan dengan batas keamanan yang lebih besar (Sabiston, 1994).

H.    Komplikasi
·      Timbulnya Diabetes Mellitus
·      Tetani hebat
·      Efusi pleura (khususnya pada hemitoraks kiri)
·      Abses pankreas atau psedokista.


2.   PROSES KEPERAWATAN
A.  Pengkajian
1.   Biodata
         Pada biodata diperoleh data tentang nama, umur, jenis kelamin, tempat tinggal, pekerjaan, pendidikandan status perkawinan. Dimana beberapa faktor tersebut dapat menempatkan klien pada resiko pada pankreatitis akut.
2.   Keluhan utama
·      Sirkulasi
Tanda     :     hipertensi (nyeri akut), hipotensi dan takikardi (syok hipovolemia atau toksemia), edema, asites.
                     Kulit pucat, dingin, berkeringat (vasokontriksi), ikterik (inflamasi/obstruksi duktus koleduktus), warna hijau-biru kecoklatan disekitar umbilicus (tanda cullen) dari akumulasi darah (pankreatitis hemoragi).
                                 Membran mukosa kering, kulit dingin dan lembab, sianosis yang dapat mencerminkan dehidrasi ringan sampai sedang akibat muntah atau sindrom kebocoran kapiler. Perubahan warna keunguan pada panggul (tanda turney grey) atau pada area periumbilikus (tanda cullen) terjadi pada nekrosis hemoragik yang luas (Sandra M, 2001).
·         Integritas Ego
      Tanda     :     Agitasi, gelisah, distress, ketakutan.
·      Eliminasi
      Tanda     :     Diare, muntah, Oliguria, azotemia atau trombosis vena renalis bisa menyebabkan gagal ginjal (Sabiston, 1994).
      Gejala     :     Sakit abdomen, distensi dan nyeri lepas, ketakutan. Peristaltik usus menurun, warna urine gelap dan berbusa, poliuria (terjadi DM)
·      Makanan / Cairan
      Gejala     :     Tidak toleran terhadap makanan, anoreksia, mual, muntah, penurunana BB


·      Neurosensori
      Tanda     :     Bingung, agitasi, tremor kasar pada ektremitas (hipokelemia)
                                 Kaji perubahan tingkah laku dan sensori yang dapat berhubungan dengan penggunaan alkohol atau indikasi hipoksia yang disertai syok (Donna D, 1995)
·      Nyeri / kenyamanan
      Gejala     :     Nyeri abdominal dalam berat yang tak berhubungan, biasanya terlokasi pada epigastrium dan periumbikal tetapi tidak menyebar kepunggung. Timbulnya dapat tiba-tiba dan sering berhubungan dengan minuman keras atau makan terlalu banyak
      Tanda     :     dapat meringkuk dengan kedua tangan diatas abdomen
·      Pernapasan
      Tanda     :     Takipnea dengan/ atau tanpa dispnea
                           Penurunan kedalaman pernafasan dengan tindakan menekan/tegang, rales pada kedua basal (efusi Pleural)
·      Keamanan
      Tanda     :     Demam
·      Seksualitas
         Tanda     :     Kehamilan (trimester ketiga) dengan perpindahan isi abdomen dan penekanan pada traktus bilier.
     
B.  Dignosa Keperawatan
1.   Nyeri b.d proses inflamasi
2.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual muntah
3.   Defisit volume cairan b.d diaphoresis, mual, muntah
4.   Pola pernafasan yang tidak efektif b.d imobilisasi akibat rasa nyeri yang hebat, infiltrat pulmoner, efusi pleura dan atelektasis
5.   Resiko infeksi b.d imobilisasi, proses inflamasi, akumulasi cairan
6.   Defisit pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan


C.  NOC dan NIC
Dx 1 : Nyeri b.d proses inflamasi

NOC :
·         Pain Level,
·         Pain control,
·         Comfort level
NIC :

Pain Management

§  Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
§  Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
§  Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien
§  Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
§  Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
§  Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan kontrol nyeri masa lampau
§  Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
§  Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan
§  Kurangi faktor presipitasi nyeri
§  Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter personal)
§  Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
§  Ajarkan tentang teknik non farmakologi
§  Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
§  Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
§  Tingkatkan istirahat
§  Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil
§  Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri


Analgesic Administration
§  Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum pemberian obat
§  Cek instruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
§  Cek riwayat alergi
§  Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika pemberian lebih dari satu
§  Tentukan pilihan analgesik tergantung tipe dan beratnya nyeri
§  Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian, dan dosis optimal
§  Pilih rute pemberian secara IV, IM untuk pengobatan nyeri secara teratur
§  Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama kali
§  Berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
§  Evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)

Dx 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d mual muntah
NOC :
·         Nutritional Status : food and Fluid Intake
·         Nutritional Status : nutrient Intake
·         Weight control
NIC :
Nutrition Management
§  Kaji adanya alergi makanan
§  Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan pasien.
§  Anjurkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
§  Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
§  Berikan substansi gula
§  Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencegah konstipasi
§  Berikan makanan yang terpilih ( sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)
§  Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian.
§  Monitor jumlah nutrisi dan kandungan kalori
§  Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
§  Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan

Nutrition Monitoring
§  BB pasien dalam batas normal
§  Monitor adanya penurunan berat badan
§  Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang biasa dilakukan
§  Monitor interaksi anak atau orangtua selama makan
§  Monitor lingkungan selama makan
§  Timbang popok/pembalut jika diperlukan
§  Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
§   Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah  ortostatik ), jika diperlukan
§  Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin  )
§  Monitor vital sign
§  Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
§  Kolaborasi pemberian cairan IV
§  Monitor status nutrisi
§  Berikan cairan
§  Berikan diuretik sesuai interuksi
§  Berikan cairan IV pada suhu ruangan
§  Dorong masukan oral
§  Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
§  Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
§  Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
§  Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
§  Atur kemungkinan tranfusi
§  Persiapan untuk tranfusi
§  Jadwalkan pengobatan  dan tindakan tidak selama jam makan
§  Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
§  Monitor turgor kulit
§  Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
§  Monitor mual dan muntah
§  Monitor kadar albumin, total protein, Hb, dan kadar Ht
§  Monitor makanan kesukaan
§  Monitor pertumbuhan dan perkembangan
§  Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
§  Monitor kalori dan intake nuntrisi
§  Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral.
§  Catat jika lidah berwarna magenta, scarlet

Dx 3 : Defisit volume cairan b.d diaphoresis, mual, muntah
NOC:
·         Fluid balance
·         Hydration
·         Nutritional Status : Food and Fluid Intake
NIC :
Fluid management
§  Timbang popok/pembalut jika diperlukan
§  Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
§  Monitor status hidrasi ( kelembaban membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah ortostatik ), jika diperlukan
§  Monitor hasil lAb yang sesuai dengan retensi cairan (BUN , Hmt , osmolalitas urin  )
§  Monitor vital sign
§  Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
§  Kolaborasi pemberian cairan IV
§  Monitor status nutrisi
§  Berikan cairan
§  Berikan diuretik sesuai interuksi
§  Berikan cairan IV pada suhu ruangan
§  Dorong masukan oral
§  Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
§  Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
§  Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
§  Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
§  Atur kemungkinan tranfusi
§  Persiapan untuk tranfusi


BAB III
PENUTUP

1.   Kesimpulan
         Pankreatitis (inflamasi pankreas) merupakan penyakit yang serius pada pankreas denganPankreatitis intensitas yang dapat berkisar mulai dari kelainan yang relatif ringan dan sembuh sendiri hingga penyakit yang berjalan dengan cepat dan fatal yang tidak bereaksi terhadap berbagai pengobatan.
         Berdasarkan system klasifikasi dikelompokkan tahap dan bentuk pankreatitis, yaitu: pankreatitis akut dan pankreatitis kronis.Penyebab dari penkratitis diantaranya adalah batu saluran empedu, infeksi virus atau bakteri, alkoholisme berat, obat seperti steroid, diuretik tiazoid, hiperlipidemia, terutama fredericson tipe V, hiperparatiroidisme, asidosis metabolic, uremia, imunologi seperti lupus eritematosus, pankreatitis gestasional karena ketidakseimbangan hormonal, defisiensi protein toksin dan lain-lain seperti gangguan sirkulasi, stimulsi vagal.

2.   Saran
§   Berikan penjelasan yang jelas kepada pasien dan tentang penyakitnya.
§   Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi.
§   Diharapkan kepada pembaca agar dapat memberikan kritik dan sarannya yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.
Mansjoer, Arif, dkk. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Jakarta : EGC
Marlynn, E, Doengeos. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC

ASUHAN KEPERAWATAN KISTA OVARI


BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ovarium merupakan tempat yang umum bagi kista, yang dapat merupakan pembesaran sederhana konstituen ovarium normal, folikel graft, atau korpus luteum, atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan abdomen dari epithelium ovarium.
Pasien dapat melaporkan atau tidak melaporkan nyeri abdomen akut atau kronik. Gejal-gejala tentang rupture kista menstimulasi berbagai kedaruratan abdomen akut, seperti apendisitis, atau kehamilan ektopik. Kista yang lebih besar dapat menyebabkan pembengkakan abdomen dan penekanan pada organ-organ abdomen yang berdekatan.
Pengobatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah. Jika ukuran lebar kista kurang dari 5 cm, dan tampak terisi oleh cairan atau fisilogis pada pasien muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista. Sekitar 98 % lesi yang terjadi pada wanita yang berumur 29 tahun dan yang lebih muda adalah jinak. Setelah usia 50 tahun, hanya 50 % yang jinak. Perawatan pascaoperatif setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen, dengan satu pengecualian. Penurunan tekanan intraabdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Komplikasi ini dapat dicegah sampai suatu tingkat dengan memberikan gurita abdomen yang ketat.
B.  Tujuan
      1.   Tujuan Umum
·         Membantu mahasiswa dalam memahami secara umum konsep dari kista ovarium
2.      Tujuan Khusus
·         Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan kista ovari
·         Mampu menemukan masalah keperawatan pada klien dengan kista ovari
·         Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan kista ovari
·         Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan kista ovari
·         Mampu mengevaluasi tindakan yang sudah dilakukan pada klien dengan kista ovari
·         Mampu mengidentifikasi factor-faktor pendukung, penghambat serta dapat mencari solusinya.
·         Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam bentuk narasi


BAB II
KONSEP DASAR

1.   TINJAUAN TEORITIS
A.  Pengertian
Kista adalah suatu jenis tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan atau benda seperti bubur (Dewa, 2000).
Kista ovarium secara fungsional adalah kista yang dapat bertahan dari pengaruh hormonal dengan siklus menstruasi ( Lowdermilk, dkk. 2005 : 273 ).
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari epithelium ovarium ( Smelzer and Bare. 2002 : 1556 ).
Tumor ovarium sering jinak bersifat kista, ditemukan terpisah dari uterus dan umumnya diagnosis didasarkan pada pemeriksaan fisik ( Sjamsoehidayat. 2005: 729 ).

B.  Etiologi
            Penyebab dari kista belum diketahui secara pasti tapi ada beberapa factor pemicu yaitu :
1.   Gaya hidup tidak sehat.
Diantaranya
a.   Konsumsi makanan yang tinggi lemak dan kurang serat
b.   Zat tambahan pada makanan
c.   Kurang olah raga
d.   Merokok dan konsumsi alcohol
e.   Terpapar denga polusi dan agen infeksius
f.    Sering stress
g.   Zat polutan
2.   Faktor genetic
            Dalam tubuh kita terdapat gen gen yang berpotensi memicu kanker, yaitu yang disebut protoonkogen, karena suatu sebab tertentu, misalnya karena makanan yang bersifat karsinogen , polusi, atau terpapar zat kimia tertentu atau karena radiasi, protoonkogen ini dapat berubah menjadi onkogen, yaitu gen pemicu kanker.

C.  Klasifikasi
Jenis kista indung telur meliputi:
1.   Kista Fungsional
            Sering tanpa gejala, timbul gejala rasa sakit bila disertai komplikasi seprti
terpuntir/ pecah, tetapi komplikasi ini sangat jarang. Dan sangat jarang pada
kedua indung telur. Kista bisa mengecil dalam waktu 1-3 bulan.
2.   Kista Dermoid
            Terjadi karena jaringan dalam telur yang tidak dibuahi kemudian tumbuh menjadi beberapa jaringan seperti rambut, tulang, lemak. Kista dapat terjadi pada kedua indung telur dan biasanya tanpa gejala. Timbul gejala rasa sakit bila kista
terpuntir/ pecah.
3.   Kista Cokelat (Edometrioma)
Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas sewaktu haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak terletak dalam ragim tetapi
melekat pada dinding luar indung telur. Akibat peristiwa ini setiap kali haid,
lapisan tersebut menghasilakan darah haid yang akan terus menerus tertimbun dan menjadi kista. Kista ini bisa 1 pada dua indung telur. Timbul gejala utama yaitu
rasa sakit terutama sewaktu haid/ sexsuale intercourse.
4.   Kistadenoma
            Berasal dari pembungkus indung telur yang tumbuh menjadi kista. Kista jenis ini juga dapat menyerang indung telur kanan dan kiri. Gejala yang timbul biasanya
akibat penekanan pada bagian tubuh sekitar seperti VU sehingga dapat
menyebabkan inkontinensia. Jarang terjadi tetapi mudah menjadi ganas terutama
pada usia diatas 45 tahun atau kurang dari 20 tahun.
Contoh Kistadenoma ;
·         Kistadenoma ovarii serosum
Berasal dari epitel germinativum. Bentuk umunya unilokuler, bila multilokuler
perlu dicurigai adanya keganasan. Kista ini dapat membesar, tetapi tidak sebesar
kista musinosum.
Gambaran klinis pada kasus ini tidak klasik. Selain teraba massa intraabdominal, dapat timbul asites. Penatalaksanaan umumnya sama seperti Kistadenoma ovarii musinosum.

·         Kistadenoma ovarii musinosum
Asal kista belum pasti. Menurut Meyer, kista ini berasal dari teratoma, pendapat lain mengemukakan kista ini berasal dari epitel germinatifum atau mempunyai asal yang sama dengan tumor Brener. Bentuk kista multilobuler, biasanya
unilatelar dapat tumbuh menjadi sangat bersar.
Gambaran klinis terdapat perdarahan dalam kista dan perubahan degeneratif
sehingga timbul pelekatan kista dengan omentum, usus dan peritoneum parietal.
Selain itu, bisa terjadi ileus karena perlekatan dan produksi musin yang terus
bertambah akibat pseudomiksoma peritonei.
Penatalaksanaan dengan pengangkatan kista tanpa pungsi terlebih dahulu dengan  atau tanpa salpingo ooforektomi tergantung besarnya kista.
D.  Tanda dan gejala
            Kebayakan tumor ovarium tidak menunjukan tanda dan gejala. Sebagian besar gejala yang ditemukan adalah akibat pertumbuhan aktivitas hormone atau komplikasi tumor tersebut.
Pada stadium awal gejalanya dapat berupa ; 
·         Gangguan haid
·         Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi  konstipasi atau sering berkemih.
·         Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan nyeri spontan dan sakit diperut.
·         Nyeri saat bersenggama
Pada stadium lanjut;
·         Asites
·         Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta oran organ di dalam rongga perut (usus dan hati)
·         Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan,
·         Gangguan buang air besar dan kecil.
·         Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.


E. Patofisiologi
1.   Kista non neoplasma (Ignativicius, Bayne, 1991 )
  1. Kista non fungsional
Kista serosa inklusi, di dalam kortek yang dalam timbul invaginasi dari permukaan epitelium yang berkurang. Biasanya tunggal atau multiple, berbentuk variabel dan terbatas pada cuboidal yang tipis, endometri atau epitelium tuba. Berukuran 1 cm sampai beberapa cm.
b.   Kista fungsional
1). Kista folikel. Kista dibentuk ketika folikel yang matang menjadi ruptur atau folikel yang tidak matang direabsorbsi cairan folikuler diantara siklus menstruasi. Bila ruptur menyebabkan nyeri akut pada pelvis. Evaluasi lebih lanjut dengan USG atau laparaskopi. Operasi dilakukan pada wanita sebelum pubertal, setelah menopause atau kista lebih dari 8 cm.
2). Kista korpus luteum. Terjadi setelah ovulasi dikarenakan meningkatnya hormon progesteron. Ditandai dengan keterlambatan menstruasi atau menstruasi yang panjang, nyeri abdomen bawah atau pelvis. Jika ruptur pendarahan intraperitonial, terapinya adalah operasi oovorektomi.
3). Kista tuka lutein. Ditemui pada kehamilan mola, terjadi pada 50 % dari semua kehamilan. Dibentuk sebagai hasil lamanya slimulasi ovarium dari berlebihnya HCG. Tindakannya adalah mengangkat mola.
4).  Kista Stein Laventhal. Disebabkan kadar LH yang berlebihan menyebabkan hiperstimulasi dari ovarium dengan produksi kista yang banyak. Hiperplasia endometrium atau koriokarsinoma dapat terjadi. Pengobatan dengan kontrasepsi oral untuk menekan produksi LH dan oovorektomi.
2.   Kish neoplasma jinak (Wiknjosastro, et.all, 1999)
      a.   Kistoma ovarii simplek. Kista ini bertangkai dan dapat menyebabkan torsi (putaran tangkai). Di duga kista ini adalah jenis kistadenoma serosum yang kehilangan kelenjarnya karena tekanan cairan dalam kista. Tindakannya adalah pengangkatan kista dengan reseksi ovarium.
      b.   Kistadenoma ovarii musinosum. Asal tumor belum diketahui secara pasti, namun diduga berasal dari teratoma yang pertumbuhan satu elemen mengalahkan elemen yang lain, atau berasal dari epitel germinativum.
  1. Kistadenoma ovarii serosum. Berasal dari epitel permukaan ovarium (germinal ovarium). Bila kista terdapat implantasi pada peritonium disertai asites maka harus dianggap sebagai neoplasma yang ganas, dan 30% sampai 35% akan mengalami keganasan.
  2. Kista endometroid. Kista biasanya unilateral dengan permukaan licin, pada dinding dalam terdapat satu lapisan sel-sel yang menyerupai lapisan epitel endometrium.
  3. Kista dermoid. Adalah suatu teratoma kistik yang jinak dimana struktur¬struktur ektoderma dengan diferensiasi sempurna seperti epitel kulit, rambut, gigi dan produk glandula sebasea putih menyerupai lemak nampak lebih menonjol dari pada elemen-elemen ektoderm dan mesoderm. Tumor berasal dari sel telur melalui proses patogenesis.
F.     Pemeriksaan Penunjang
1.   Laparaskopi
            Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, dan untuk menentukan silat-sifat tumor itu.
2.   Ultrasonografi
            Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor apakah tumor berasal dari uterus, ovarium, atau kandung kencing, apakah tumor kistik atau solid, dan dapatkah dibedakan pula antara cairan dalam rongga perut yang bebas dan yang tidak.
3.   Foto Rontgen
            Pemeriksaan ini berguna untuk menentukan adanya hidrotoraks. Selanjutnya, pada kista dermoid kadang-kadang dapat dilihat gigi dalam tumor. Penggunaan foto rontgen pada pictogram intravena dan pemasukan bubur barium dalam colon disebut di atas.


4. Parasentesis
            Telah disebut bahwa fungsi pada asites berguna menentukan sebab asites. Perlu diingatkan bahwa tindakan tersebut dapat mencemarkan cavum peritonei dengan kista bila dinding kista tertusuk. (Wiknjosastro, et.all, 1999)
5.   Pap smear
            Untuk mengetahui displosia seluler menunjukan kemungkinan adaya kanker/kista.
G.  Penatalaksanaan
a.       Pengangkatan kista ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah, misal laparatomi, kistektomi atau laparatomi salpingooforektomi.
b.      Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista.
c.       Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita abdomen sebagai penyangga.
d.      Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda – tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi. ( Lowdermilk.dkk. 2005:273 ).
Tindakan operasi pada tumor ovarium neoplastik yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung tumor. Akan tetapi jika tumornya besar atau ada komplikasi, perlu dilakukan pengangkatan ovarium, bisanya disertai dengan pengangkatan tuba (Salpingo-oovorektomi). (Wiknjosastro, et.all, 1999)
Asuhan post operatif merupakan hal yang berat karena keadaan yang mencakup keputusan untuk melakukan operasi, seperti hemorargi atau infeksi. Pengkajian dilakukan untuk mengetahui tanda-tanda vital, asupan dan keluaran, rasa sakit dan insisi. Terapi intravena, antibiotik dan analgesik biasanya diresepkan. Intervensi mencakup tindakan pemberiaan rasa aman, perhatian terhadap eliminasi, penurunan rasa sakit dan pemenuhan kebutuhan emosional Ibu. (Hlamylton, 1995).

            Efek anestesi umum. Mempengaruhi keadaan umum penderita, karena kesadaran menurun. Selain itu juga diperlukan monitor terhadap keseimbangan cairan dan elektrolit, suara nafas dan usaha pernafasan, tanda-tanda infeksi saluran kemih, drainese urin dan perdarahan. Perawat juga harus mengajarkan bagaimana aktifitas pasien di rumah setelah pemulangan, berkendaraan mobil dianjurkan setelah satu minggu di rumah, tetapi tidak boleh mengendarai atau menyetir untuk 3-4 minggu, hindarkan mengangkat benda-benda yang berat karena aktifitas ini dapat menyebabkan kongesti darah di daerah pelvis, aktifitas seksual sebaiknya dalam 4-6 minggu setelah operasi, kontrol untuk evaluasi medis pasca bedah sesuai anjuran (Long, 1996).
H. Komplikasi
            Menurut manuaba ( 1998:417 ) komplikasi dari kista ovarium yaitu :
a.   Perdarahan intra tumor
            Perdarahan menimbulkan gejala klinik nyeri abdomen mendadak dan memerlukan tindakan yang cepat.
b.   Perputaran tangkai
            Tumor bertangkai mendadak menimbulkan nyeri abdomen.
c.   Infeksi pada tumor
            Menimbulkan gejala: badan panas, nyeri pada abdomen, mengganggu aktifitas sehari-hari.
d.   Robekan dinding kista
            Pada torsi tangkai ada kemungkinan terjadi robekan sehingga isi kista tumpah kedalam rungan abdomen.

e.   Keganasan kista ovarium
            Terjadi pada kista pada usia sebelum menarche dan pada usia diatas 45 tahun.

2.   PROSES KEPERAWATAN
A.  Pengkajian
      1.   Biodata Meliputi identitas pasien, identitas penanggung jawab dan identitas masuk.
2. Riwayat kesehatan, meliputi keluhan utama, riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan keluarga dan riwayat sosial ekonomi.
3.   Status Obstetrikus, meliputi :
·         Menstruasi : menarche, lama, siklus, jumlah, warna dan bau
·         Riwayat perkawinan : berapa kali menikah, usia perkawinan
·         Riwayat persalinan
·         Riwayat KB
      4.   Pengkajian pasca operasi rutin, menurut (Ingram, Barbara, 1999)
·         Kaji tingkat kesadaran
·         Ukur tanda-tanda vital
·         Auskultasi bunyi nafas
·         Kaji turgor kulit
·         Pengkajian abdomen
·          Inspeksi ukuran dan kontur abdomen-
    • Auskultasi bising usus-
    • Palpasi terhadap nyeri tekan dan massa-
    • Tanyakan tentang perubahan pola defekasi-
    • Kaji status balutan-
·         Kaji terhadap nyeri atau mual
·         Kaji status alat intrusive
·         Palpasi nadi pedalis secara bilateral
·         Evaluasi kembajinya reflek gag
·         Periksa laporan operasi terhadap tipe anestesi yang diberikan dan lamanya waktu di bawah anestesi.
·         Kaji status psikologis pasien setelah operasi
      5.   Data penunjang
·         pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan darah lengkap (NB, HT, SDP)
·         terapi : terapi yang diberikan pada post operasi baik injeksi maupun peroral
B. Diagnosa Keperawatan
      1.   Pre Oprerasi
a.       Cemas b.d prosedur operasi, perubahan konsep diri.
b.      Nyeri b.d proses penyakit (penekanan/kompresi) jaringan pada organ ruang abdomen
c.       Resiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d mual, muntah intake yang tidak adekuat.
d.      Gangguan harga diri b.d masalah tentang ketidaknyamanan mempunyai anak, perubahan feminimitas dan efek hubungan seksual.
e.       Disfungsi seksual, resiko tinggi terhadap kemungkinan pola respon seksual
f.       Eliminasi urinarius, perubahan / retensi b.d adanya edema pada jaringan lokal
g.      Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b.d kurang terpajan / mengingat, salah interpretasi informasi.

2.   Post Operasi
a.       Nyeri b.d prosedur pembedahan, trauma jaringan
b.      Risiko infeksi b.d invasi kuman sekunder terhadap pembedahan
c.       Kerusakan integritas kulit b.d pengangakatan bedah kulit.( jaringan, perubahan sirkulasi).
d.      Kerusakan mobilitas fisik b.d gangguan neuromuskuler, nyeri / ketidaknyamanan, pembentukan edema.
e.       Resiko kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan berlebih.
f.       Gangguan harga diri b.d biofisikal prosedur bedah yang mengubah gambaran tubuh, psikososial, masalah tentang ketertarikan social.
C. Intervensi Keperawatan
      1.   Pre Operasi     
            Dx 1 : cemas b.d prosedur operasi perubahan konsep diri.
      Intervensi;
1.      Yakinkan informasi klien tenteng diagnosis, harapan, intervensi pembedahan dan terapi yang akan datang.
2.      Jelaskan tujuan dan persipan untuk tes diagnostic
3.      Berikan lingkungan perhatian, kterbukaan dan penerimaan juga privasi untuk pasien / orang terdekat.
4.      Dorong pertanyaan dan berikan waktu untuk mengekspresikan takut.
5.      Kaji tersedianya dukungan pada pasien.
6.      Diskusikan / jelaskan peran rehabilitasi setelah pembedahan.
Dx 2 : Nyeri berhubungan dengan prases penyakit (penekanan/kompresi) jaringan pada organ ruang abdomen
Intervensi
      1.   Identifikasi karakteristik nyeri dan tindakan penghilang nyeri
      2.   Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung), hiburan dan
            lingkungan.
      3.   Ajarkan teknik relaksasi
      4.   Kembangkan rencana manajemen nyeri antara pasien dan dokter
      5.   Berikan analgesic sesuai resep.




2.   Post Operasi
      Dx 1 : Nyeri b.d prosedur pembedahan, trauma jaringan
Intervensi:
1.      Kaji keluhan nyeri, perhataikan lokasi, lama dan intensitas (skala 0-10), perhatikan petunjuk verbal dan nonverbal
2.      Bantu pasien menemukan posisi nyaman
3.      Berikan tindakan kenyamanan dasar
4.      Berikan obat nyeri yang tepat pada jadwal terakhir
5.      Kolaborasi : berikan / analgetik sesuai indikasi
Dx 2 : Resiko infeksi b.d invasi kuman sekunder terhadap pembedahan
Intervensi :
1.      Kaji tanda-tanda infeksi dan monitor TTV
2.      Gunakan tehnik antiseptik dalam merawat pasien
3.      Isolasikan dan instruksikan individu dan keluarga untuk mencuci tangan sebelum mendekati pasien
4.      Tingkatkan asupan makanan yang bergizi
5.      Berikan terapi antibiotik sesuai program dokter
Dx 3 : kerusakan integritas kulit b.d pengangkatan bedah kulit / jaringan, perubahan sirkulasi.
Intervensi:
1.      Kaji balutan / untuk karakteristik drainase, kemerahan dan nyeri pada insisi dan lengan.
2.      Tempatkan pada posisi semi fowler pada punggung / sisi yang tidak sakit dengan lengan tinggi dan disokong dengan bantal.
3.      Jangan melakukan pengukaran TD, menginjeksikan obat / memasukan IV pada lengan yang sakit.
4.      Inspeksi donor/ sisi donor ( bila dilakukan ) terhadap warna, pembentukan lepuh perhatikan drinase dan sisi donor
5.      Kosongkan drain luka, secara periodic( catat jumlah dan karakeristik drainase)
6.      Dorong klien untuk menggunakan pakaian yang tidak sempit / ketat.
7.      Kolaborasi: berikan antibiotic sesuai indikasi

D. Evaluasi
a.       Cemas klien berkurang
b.      Kerusakan integritas kulit tidak terjadi
c.       Nyeri berkurang
d.      Nutrisi klien terpenuhi
e.       Penyebaran infeksi tidak terjadi
f.       Pengetahuan klien bertambah.


BAB III
PENUTUP
1.   Kesimpulan
Ovarium merupakan tempat yang umum bagi kista, yang dapat merupakan pembesaran sederhana konstituen ovarium normal, folikel graft, atau korpus luteum, atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan abdomen dari epithelium ovarium.
            Pasien dapat melaporkan atau tidak melaporkan nyeri abdomen akut atau kronik. Gejal-gejala tentang rupture kista menstimulasi berbagai kedaruratan abdomen akut, seperti apendisitis, atau kehamilan ektopik. Kista yang lebih besar dapat menyebabkan pembengkakan abdomen dan penekanan pada organ-organabdomen yang berdekatan.
2.   Saran
·         Berikan penjelasan yang jelas kepada pasien dan tentang penyakitnya.
·         Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan mencegah terjadinya komplikasi.
·         Diharapkan kepada pembaca agar dapat memberikan kritik dan sarannya yang membangun demi kesempurnaan makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.
Doenges, E, Marilyn. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Maternal / Bayi. Jakarta : EGC.
Lowdermilk, perta. 2005. Maternity Women’s Health Care. Seventh edition. Philadelphia : Mosby.
Sjamjuhidayat & Wim de Jong. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Smeltzer and Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC.